Pages

CLONORCHIASIS (Penyakit cacing hati oriental atau Cina)

Selasa, 29 Maret 2011

1. Identifikasi Clonorchiasis adalah penyakit trematoda saluran empedu. Gejala klinis mungkin ringan atau tidak ada sama sekali pada infeksi ringan; gejala disebabkan oleh iritasi lokal dari saluran empedu oleh cacing. Hilang nafsu makan, diare dan rasa tertekan pada perut adalah gejala awal yang umum terjadi. Jarang sekali, sumbatan saluran empedu menyebabkan ikterus diikuti sirosis, hepatomegali, melunaknya hati, asites progresif dan edema. Penyakit ini adalah penyakit kronis, kadang-kadang berlangsung 30 tahun atau lebih, jarang menimbulkan kematian langsung dan terkadang sama sekali tidak menampakkan gejala. Namun, penyakit ini sebagai faktor risiko yang signifikan untuk berkembang menjadi cholangiocarcinoma. Diagnosa dibuat dengan menemukan telur yang khas pada tinja atau cairan cuci duodenum. Telur cacing dengan ciri khas ini membedakan cacing ini dengan cacing lain. Diagnosa serologis dapat di lakukan dengan ELISA. 2. Penyebab penyakit – Chlonorchis sinensis, cacing hati Cina. 3. Distribusi penyakit Sangat endemis di bagian tenggara Cina, namun tersebar hampir di seluruh daratan Cina kecuali di bagian barat daya; juga ditemukan di Jepang, Taiwan, Korea, Vietnam dan mungkin di Laos dan Kamboja, terutama di delta sungai Mekong. Di bagian lain dunia,
117
kasus import ditemukan dikalangan imigran dari Asia. Di kebanyakan daerah endemis prevalensi tertinggi ditemukan pada orang dewasa diatas usia 30 tahun. 4. Reservoir – Manusia, kucing, anjing, babi, tikus dan binatang lain. 5. Cara penularan Orang terinfeksi sesudah memakan ikan mentah atau setengah matang yang mengandung kista larva. Setelah dicerna, larva lepas dari kista dan migrasi melalui saluran empedu utama ke cabang-cabang saluran empedu. Telur diletakkan di saluran empedu dan dibuang melalui tinja. Telur di dalam tinja mengandung mirasidia yang sudah matang; jika ditelan oleh siput (misalnya Parafossarulus), mereka menetas di dalam usus siput, masuk ke dalam jaringan dan menjadi larva yang aseksual (serkaria) dan masuk ke dalam air. Pada saat kontak dengan hospes perantara kedua (ada sekitar 110 spesies ikan air tawar terutama yang masuk dalam famili Cyprinidae), serkaria masuk ke hospes ikan dan membentuk kista, biasanya di otot, terkadang hanya pada bagian bawah dari sisik. Siklus hidup yang lengkap, dari manusia ke siput hingga ikan dan akhirnya kembali ke manusia lagi, membutuhkan waktu setidaknya 3 bulan. 6. Masa inkubasi – tidak diketahui dengan tepat, bervariasi tergantung jumlah cacing yang ada; cacing menjadi dewasa dalam waktu 1 bulan sesudah kista larva tertelan. 7. Masa penularan – Orang yang terinfeksi bisa mengeluarkan telur cacing terus menerus selama 30 tahun; penularan tidak berlangsung dari orang ke orang. 8. Kerentanan dan kekebalan – Semua orang rentan terhadap penyakit ini. 9. Cara – cara pemberantasan A. Cara pencegahan : Semua ikan air tawar yang akan dikonsumsi hendaknya dimasak dengan benar atau diradiasi. Dianjurkan untuk membekukan ikan pada suhu –10 oC (14oF) minimal selama 5 hari atau disimpan dalam waktu beberapa minggu didalam larutan garam jenuh, tetapi cara ini belum terbukti bermanfaat. 1). Di daerah endemis; lakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya mengkonsumsi ikan mentah atau yang tidak di masak dengan baik dan pentingnya pembuangan tinja dijamban yang saniter untuk menghindari pencemaran terhadap sumber makanan ikan. Jangan membuang tinja dan kotoran binatang ke dalam kolam ikan. B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar: 1). Laporan ke instansi kesehatan setempat: laporan resmi tidak dilakukan, Kelas 5 (lihat tentang pelaporan penyakit menular). 2). Isolasi : Tidak dilakukan. 3). Disinfeksi serentak : Lakukan pembuangan tinja pada jamban yang saniter. 4). Karantina : Tidak dilakukan. 5). Imunisasi kontak : Tidak dilakukan. 6). Investigasi kontak dan sumber infeksi : Untuk kasus individual, biasanya tidak dilakukan. Penyakit ini merupakan masalah masyarakat (lihat 9C dibawah).
118
7). Pengobatan spesifik : Obat yang menjadi pilihan adalah praziquantel (Biltricide®) C. Penanggulangan wabah : Cari dan temukan sumber ikan yang terinfeksi. Ikan yang diawetkan atau acar ikan yang dikapalkan dari daerah non endemis diduga sebagai sumber penularan. Sedangkan ikan air tawar segar atau yang dibekukan yang diangkut ke AS setiap hari dari daerah endemis juga sebagai sumber penularan. D. Implikasi bencana : Tidak ada. E. Tindakan internasional : Lakukan pengawasan ikan atau produk ikan yang dimpor dari daerah endemis.

0 komentar:

Poskan Komentar

comment

 
Manual Penyakit Menular © 2011 - Designed by Blogger Templates Gallery