Pages

CHANCROID (Ulcus molle, Soft chancre)

Selasa, 22 Maret 2011

1. Identifikasi.
Infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri, terlokalisir pada daerah genital dan secara klinis mempunyai ciri-ciri rasa sakit disatu atau beberapa tempat; luka nekrotis pada tempat yang terinfeksi, biasanya disertai dengan pembengkakan dan rasa sakit pada kelenjar limfe setempat serta mengeluarkan nanah. Lesi ringan bisa terjadi pada dinding vagina atau cervix. Infeksi asimptomatis bisa juga terjadi pada wanita. Pernah ditemukan lesi ekstra genital. Lesi chancroid, seperti lesi pada alat kelamin lain dikaitkan dengan meningkatnya risiko terkena infeksi HIV.
Diagnosa ditegakkan dengan mengisolasi organisme dari eksudat lesi yang ditanam pada media selektif dengan menambahkan vancomisin ke dalam media agar coklat, darah kelinci atau media agar darah kuda yang di perkaya dengan serum janin anak sapi. Spesimen yang diambil dari eksudat yang dicat dengan pengecatan gram bisa memperkuat diagnosa jika ditemukan kokobasil gram negatif yang terlihat menggerombol diantara sel darah putih. Pemeriksaan dengan PCR dan imunofluoresen untuk deteksi langsung organisme dari lesi serta pemeriksaan serologi, tersedia hanya untuk tujuan riset.
2. Penyebab penyakit : Haemophilus ducreyi, Basil ducrey.
3. Distribusi penyakit.
Lebih sering ditemukan pada pria, terutama mereka yang sering berhubungan dengan pekerja seksual komersial. Sangat prevalen di daerah tropis dan subtropis diseluruh dunia, insidennya mungkin lebih tinggi dari sifilis dan hampir sama seperti insiden gonorrhea pada pria. Penyakit ini jarang terjadi di daerah iklim sedang, namun bisa juga muncul sebagai KLB kecil. Di AS, KLB dan penularan setempat terjadi, terutama dikalangan pekerja migran di daerah pertanian dan penduduk miskin perkotaan.
92
4. Reservoir : manusia.
5. Cara penularan :
Melalui kontak seksual langsung, dengan discharge dari luka yang terbuka dan pus dari bubo. Auto inokulasi pada tempat-tempat selain alat kelamin bisa terjadi pada penderita. Pelecehan seksual bisa di curigai telah terjadi bila chancroid ditemukan pada anak-anak usia perinatal.
6. Masa inkubasi : Dari 3- 5 hari sampai dengan 14 hari.
7. Masa penularan :
Seseorang bisa menularkan chanchroid hingga sampai ia sembuh, penyakit ini menular selama bakteri masih ada dari luka atau discharge dari kelenjar limfe yang bisa berlangsung selama beberapa minggu atau beberapa bulan bila tidak diobati dengan antibiotik yang tepat. Pengobatan dengan antibiotik membunuh H. ducreyi dan luka akan sembuh dalam 1-2 minggu.
8. Kekebalan dan kerentanan.
Semua orang rentan terhadap penyakit ini; pria yang tidak disunat mempunyai risiko lebih tinggi daripada pria yang disunat. Tidak ada bukti terbentuknya kekebalan tubuh alamiah terhadap penyakit ini.
9. Cara-cara pemberantasan :
A. Cara pencegahan.
1). Tindakan pencegahannya sama dengan cara pencegahan untuk sifilis (lihat sifilis. (9A).
2). Lakukan pemeriksaan serologis untuk sifilis dan HIV terhadap semua penderita non herpes dengan luka pada alat kelamin.
B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar :
1). Laporan kepada instansi kesehatan setempat; kasus wajib dilaporkan di beberapa negara bagian dan di banyak negara, kelas 2B (laporan)
2). Isolasi : tidak dilakukan; hindari kontak seksual hingga luka sembuh.
3). Disinfeksi serentak : tidak dilakukan.
4). Karantina : tidak dilakukan.
5). Imunisasi kontak : tidak dilakukan.
6). Investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi : periksa dan obati semua kontak seksual dengan penderita dalam 10 hari sebelum munculnya gejala. Wanita tanpa gejala, jarang menjadi carrier. Kontak seksual dengan orang tanpa gejala sebaiknya diberi pengobatan profilaktik.
7). Pengobatan spesifik : Septriakson, eritromisin, azitromisin dan khusus untuk orang dewasa: siprofloksasin adalah obat pilihan. Pengobatan alternatif menggunakan amoksisilin dan asam clavulanat. Kelenjar limfe didaerah inguinal yang terlihat membangkak sebaiknya dilakukan aspirasi agar tidak pecah secara spontan.
93
C. Penanggulangan wabah :
Ditemukannya penderita terus menerus atau meningkatnya insiden penyakit disuatu wilayah adalah indikasi untuk menerapkan prosedur tindakan seperti yang dijelaskan pada 9A dan 9B diatas. Apabila compliance pengobatan dengan menggunakan jadwal seperti yang tertera pada (9B7) rendah maka sebagai pertimbangan sebaiknya diberikan dosis tunggal ceftriaxone atau azithromycin. Terapi empiris perlu diberikan kepada kelompok risiko tinggi dengan atau tanpa ulkus; yaitu kepada pekerja seksual komersial, kepada pasien yang datang ke klinik dengan ulkus pada alat kelamin dan pada pemeriksaan dengan mikroskop lapangan gelap hasilnya negatif. Terapi empiris ini tujuannya untuk mencegah terjadinya KLB.
D. Implikasi bencana : Tidak ada.
E. Tindakan internasional : Lihat sifilis (9E).

0 komentar:

Poskan Komentar

comment

 
Manual Penyakit Menular © 2011 - Designed by Blogger Templates Gallery